Kericuhan Aksi di DPRD Jabar, Puluhan Massa Alami Luka dan Iritasi Gas Air Mata
Sumber foto: Evakuasi oleh ambulans di jl. H. Juanda (Fahmi Nur Mahmud)
BPPM Pasoendan – Kericuhan massa aksi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Jumat (29/8/2025) malam, menimbulkan banyak korban. Insiden ini dipicu oleh meninggalnya seorang pengemudi ojek online saat aksi demo di depan Gedung DPR RI, Jakarta, sehari sebelumnya, Kamis (28/8/2025).
Menurut laporan M. Rafa Rizkyansyah, Komandan KSR PMI Unit Universitas Pasundan, korban mulai dievakuasi ke Posko Penanganan Universitas Pasundan Tamansari sekitar pukul 17.30 WIB. Hal ini dilakukan setelah Posko Penanganan Unisba penuh dan tidak mampu lagi menampung korban.
“Untuk posko Unpas sendiri sudah mulai dipadati korban sejak sekitar pukul setengah enam sore. Itu karena posko Unisba ditutup lantaran penuh, lalu korban diarahkan ke Unpas,” ujar Rafa.
Hingga pukul 19.30 WIB, tercatat sebanyak 42 orang korban telah mendapat penanganan di Posko Universitas Pasundan. Sebagian besar korban mengalami iritasi akibat gas air mata, luka robek, dan lecet akibat terjatuh saat panik.
“Korban rata-rata terkena gas air mata. Selain itu, ada yang jatuh karena panik, berdesakan dengan massa, bahkan terinjak hingga mengalami luka robek dan lecet,” tambah Rafa.
Sementara itu, kondisi aksi di depan Gedung DPRD Jawa Barat sudah mulai ricuh sejak pukul 17.00 WIB. Massa tidak terkendali, situasi semakin chaos, dan banyak korban mulai berjatuhan.
“Waktu saya sampai sekitar jam lima sore, kondisinya sudah tidak terkendali. Massa semakin membeludak, situasi benar-benar amburadul,” kata Rasyid, salah seorang demonstran.
Kericuhan terjadi akibat bentrokan antara massa dengan aparat kepolisian. Gas air mata yang ditembakkan secara masif membuat sebagian besar demonstran panik, ditambah adanya provokasi dari oknum demonstran maupun aparat.
“Demonstran jadi tidak terkendali karena ada pihak-pihak yang mericuhkan suasana, baik dari oknum massa maupun kepolisian. Gas air mata ditembakkan secara brutal, membuat banyak orang panik, khususnya mereka yang baru pertama kali ikut aksi. Akhirnya, massa berlarian tak terkendali dan situasi berubah jadi chaos,” jelas Rasyid.
Penulis:Fahmi Nur Mahmud
Penyunting:Muhammad Alif Maftuh
Beri Komentar